Finansial dan Keuangan

Not just another WordPress.com weblog

Evaluasi Keuangan Akhir Tahun (Bagian II)

Posted by Antonius Blantran de Rozari on 29 December 2008

Contoh Neraca 2006-2007

Contoh Neraca 2006-2007

Bila anda sudah melengkapi spreadsheet Contoh Neraca (lihat bagian pertama dari tulisan ini) dengan data finansial tahun 2007 dan 2008, maka anda telah menyelesaikan langkah pertama dari Evaluasi Finansial Tahunan, menghitung perubahan Kekayaan Bersih (Net Worth). Perubahan ini bisa saja negatif bergantung pada kondisi perekonomian dan struktur neraca anda. Sebagai contoh apabila pada awal tahun 2008 porsi Investasi anda lebih besar daripada jumlah Aset Lancar dan Aset Tetap, kemungkinan besar Kekayaan Bersih anda akan turun akibat anjloknya harga saham di bursa lokal dan global. Namun penurunan ini belum cukup untuk bisa menyimpulkan bahwa kesehatan finansial anda tidak sehat, mengingat aset dalam bentuk Investasi memiliki kecenderungan turun-naik (volatile) dan berdampak terhadap Kekayaan Bersih anda. Maka dari itu diperlukan indikator-indikator lain yang mengukur kesehatan finansial diluar Aset Investasi. Indikator-indikator tersebut dikenal sebagai rasio finansial.

Untuk mempermudah pembahasan, di bagian kedua ini akan diberikan contoh neraca tahun 2006-2007 yang sudah diisi lengkap, anda bisa men-download-nya di sini. Spreadsheet ini otomatis menghitung semua rasio finansial apabila anda telah mengisi data ke tabel Neraca dengan lengkap. Ada tiga rasio yang anda perlu perhatikan yaitu rasio lancar, rasio kas dan rasio hutang terhadap kekayaan bersih. Ketiga rasio ini ditampilkan di baris-baris atas di spreadsheet Neraca 2006-2007.

Rasio Lancar (current ratio) menunjukkan perbandingan antara Aset Lancar terhadap Hutang Lancar. Semakin besar nilainya semakin baik. Jika harganya sama dengan 1 artinya jika anda berencana membayar seluruh hutang jangka pendek anda maka seluruh aset lancar anda harus dicairkan. Para ahli keuangan menganjurkan rasio ini minimal sama dengan 1,5 walaupun menurut penulis sebaiknya tidak lebih rendah dari 3,0. Para pengguna kartu kredit wajib mengawasi rasio ini guna mencegah aset mereka tergerus akibat hutang kartu kredit.

Rasio berikutnya, Ratio Kas yang menunjukkan perbandingan antara tabungan di bank terhadap hutang lancar. Rasio ini nilainya lebih rendah daripada Rasio Lancar karena hanya memperhitungkan tabungan di bank. Nilai Idealnya berkisar antara 1 sampai 2. Semakin besar semakin baik

Rasio yang terakhir adalah Rasio Hutang terhadap Kekayaan Bersih atau lebih dikenal dengan istilah DER (Debt Equity Ratio), rasio ini mengukur porsi pengadaan aset anda, apakah pembiayaannya lebih besar dari hutang (lewat kredit) atau modal sendiri (tabungan)? Mengingat hampir sebagian besar orang, bobot aset terbesar ada dalam bentuk Properti (Aset Tetap),  maka dengan adanya rasio ini, bisa ditunjukkan apakah pembiayaan KPR anda memberatkan. Lebih jauh lagi anda bisa memperkirakan besarnya harga rumah atau apartemen yang mampu anda beli dan uang muka  (down payment) yang harus disediakan agar rasio ini berada dalam kisaran 0,2 sampai dengan 0,36.  Semakin kecil nilai rasio ini, semakin baik.

Kembali ke Neraca Tahun 2006-2007. Terlihat bahwa Rasio Lancar turun dari 3,63 menjadi 1,41 melewati ambang batas bawah 1,5 (atau 3,0 bila anda setuju dengan penulis). Hal ini terjadi karena Hutang ke perorangan berkurang hanya sedikit (Rp 711.528) sementara Hutang Kartu Kredit membengkak 17 kali lipat dari Rp 450.788 menjadi 7.701.432. Situasi yang tidak menyenangkan karena bunga kartu kredit berkisar antara 1,99% sampai 3,75% per bulan atau 23,88% sampai 45% per tahun dan dengan beban bunga sebesar ini jelas sangat memberatkan. Hal yang serupa juga terjadi dengan Rasio Kas yang turun dari 3,63 menjadi 0,63.

Rasio Hutang Jangka Panjang terhadap Kekayaan bersih 2006-2007, melonjak drastis dari 0 menjadi 0,5, melewati batas ambang atas 0,36. Bila ditelaah lebih seksama terjadi kenaikan nilai Aset Tetap – Properti dari Rp 175 juta menjadi Rp 532 juta karena pembelian apartemen. Namun pengadaanya menimbulkan Hutang Jangka Panjang dalam bentuk KPR sebesar Rp 183.372.936 dan KTA (Kredit Tanpa Agunan) Rp 44.251.916 untuk pembayaran uang muka.

Jadi walaupun Kekayaan Bersih meningkat 87,12% dibanding tahun 2006, perlu dicatat kenaikan ini disebabkan oleh:

  1. Kenaikan nilai Aset Tetap – Properti yang pengadaannya ditunjang Hutang Jangka Panjang
  2. Kenaikan nilai Aset Investasi yang cenderung turun-naik dan rentan terhadap kondisi ekonomi dan bursa.

Selain itu rasio-rasio di atas menunjukkan penurunan kondisi kesehatan finansial. Sejumlah langkah-langkah perlu diambil di tahun 2007 untuk memperbaiki kondisi finansial ini. Langkah-langkah tersebut akan dibahas di bagian ketiga dari tulisan ini.

Posted in Anggaran | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Evaluasi Keuangan Akhir Tahun (Bagian I)

Posted by Antonius Blantran de Rozari on 28 December 2008

Menjelang tutup tahun, setiap orang umumnya berharap bahwa pencapaian yang akan diraih di tahun yang akan datang jauh lebih baik dibanding tahun yang akan berlalu. Walau harapan-harapan tersebut bisa bermacam-macam, namun hampir bisa dipastikan sebagian besar akan berdampak terhadap kondisi finansial anda di tahun mendatang. Keinginan-keinginan seperti menikah, memiliki anak, rumah atau kendaraan, melanjutkan pendidikan, berlibur dan sebagainya sudah pasti memerlukan pendanaan yang sumbernya telah ditentukan dengan matang. Jangan sampai akhirnya anda kecewa akibat tidak tercapainya harapan-harapan tersebut akibat minimnya dana atau malah terlilit hutang akibat memaksakan diri memenuhi harapan yang sebenarnya belum bisa anda capai. Perlu anda ingat bahwa pencapaian-pencapaian dalam hidup kita dibangun melalui pencapaian-pencapaian yang lebih kecil, sederhana dengan target waktu yang lebih pendek. Seiring dengan waktu, prestasi-prestasi kecil ini berakumulasi, memberikan pijakan yang kokoh kepada anda untuk menggapai prestasi-prestasi yang lebih besar. Read the rest of this entry »

Posted in Anggaran | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Sunset Policy versus liburan petugas pajak

Posted by Antonius Blantran de Rozari on 27 December 2008

STOP PRESS!
Melihat tingginya animo para calon WP yang hendak mendaftar sementara waktu pendaftaran hampir berakhir, akhirnya Menkeu Sri Mulyani mempertimbangkan untuk memperpanjang masa berlakunya Sunset Policy sampai dengan 28 Februari 2008 dan Presiden SBY sudah menandatangani Perpu Perpanjangan Masa Berlakunya Sunset Policy sampai akhir Maret 2009.  Berita tersebut dapat anda lihat di link berikut ini dan di sini.

As usual, it takes Jeng Ani to make this kind of decision.

Sudah menjadi kebiasaan penulis, setiap akhir minggu (hari sabtu dan minggu) menikmati sarapan pagi dan kopi sambil membaca koran pagi. Sebuah ritual mewah mengingat selama hari kerja harus bangun pagi-pagi dan bergegas ke kantor.

Pada saat membalik-balik halaman, mata terpaku pada artikel di harian Kompas halaman 17 yang berjudul Wajib pajak Kecewa. Kekecewaan ini sehubungan dengan tutupnya kantor pelayanan pajak justru pada saat para wajib pajak (WP) dikejar tengat batas waktu berakhirnya Sunset Policy, 31 Desember 2008. Lebih mengecewakan lagi pernyataan Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak Djoko Slamet Surjoputro yang menyayangkan perilaku WP yang menunda pengurusan pajak sampai menjelang batas waktu Sunset Policy berakhir. Read the rest of this entry »

Posted in Pajak | Tagged: , | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.